Alasan utama PHK dilakukan adalah karena kondisi ekonomi global yang belum juga pulih sempurna.Fenomena PHK dimulai pada bulan September, saat salah perusahaan teknologi terbesar di dunia yang berbasis di AS, Hewlett-Packard menyatakan bakal melakukan PHK hingga 30.000 orang karyawan. Pada Minggu ini saja, sejumlah perusahaan dunia yakni 3M, Biogen, Credit Suisse, Disney's ESPN, dan Perrigo menyatakan akan melakukan langkah yang sama.
Berdasarkan laporan dari konsultan Challenger, Gray and Christmas, angka PHK di bulan September naik 43 persen dari bulan sebelumnya. Jumlah itu juga meningkat 93 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. "Tak mau melebih-lebihkan, tapi gelombang PHK memang benar – benar sangat besar di tahun ini," tutur CEO Challenger Consultant, John Challenger. "Kondisi ekonomi saat ini memberikan beban lebih berat bagi perusahaan yang mengalami peforma kinerja kurang memuaskan untuk mengambil langkah terbaik secepatnya," tuturnya.
Kuartal III 2015 adalah periode terburuk sejak kuartal III 2009 dalam hal PHK. Sejauh ini pada tahun 2015, jumlah pemecata lebih banyak dibanding PHK sepanjang 2014. Naiknya aksi merger dan akuisisi perusahaan juga berujung ke konsolidasi keputusan yang terkadang harus memangkas karyawan.
Challenger juga menekankan pada kondisi ekonomi yang sedang dalam tahap recovery, artinya belum pulih betul dari perlambatan. Meski laporan jumlah PHK di beberapa waktu belakangan ini terus beredar, laporan mengenai klaim pengangguran masih belum meningkat, bahkan cenderung mengalami penurunan.